berbagi, komputer & internet marketing

Friday, 14 February 2014

Program Indonesia Berdering

 Program Indonesia Berdering. Lihat, luasnya Indonesia.

Bagi warga atau penduduk, yang hidup di kota, sudah lama menikmati fasilitas telepon. Sementara, warga yang menetap di daerah terpencil, pulau-pulau terluar, atau daerah perbatasan, masih banyak yang belum menikmati teknologi ini. Baik telpon kabel, maupun nirkabel. 

Sekarang telepon kabel 'sudah mati', karena 'ditendang' jenis nirkabel atawa wireless. Telpon nirkabel ini lebih kita kenal dengan hp, atau handphone. Telepon genggam. Atau mobile phone. Artinya telponnya, bisa ditenteng kemana saja. Kalau jaman kabel, kan tidak bisa.

Melihat situasi itu, rupanya sudah dipikirkan pemerintah. Secara peraturan, penyelenggara telepon nirkabel itu, atau lebih familiar dipanggil operator seluler, dipotong pajak sebesar sekitar di bawah 1%. Duit pengumpulan operator ini, dikumpulkan, kemudian dibelikan pemerintah untuk fasilitas telpon di daerah terpencil tadi. Istilah kegiatan ini, disebut USO. Atau universal service obligation.

Daerah-daerah yang belum terjangkau fasilitas telpon, diberikan fasilitas oleh negara. Program ini sudah lama sekali, sekitar tahun 2011. Program ini dikenal dengan nama Program Indonesia Berdering.

Sayang, karena masalah pelaksanaan, teknologi yang dipasang sudah ketinggalan. Waktu itu, menggunakan telpon IP, melalui sambungan satelit. Berbagai kendala lapangan, mengakibatkan sering terjadi gangguan. Padahal, biaya untuk pekerjaan ini hampir mencapai 1 trilyun. 

Beberapa ahli sebenarnya, mengusulkan pemakaian tower operator seluler. Bukan telpon IP melalui satelit. Begitu juga penduduk desa-desa terpencil itu. Setiap kedatangan tim instalasi telpon, yang mereka tunggu adalah hp. Ketika bukan, mereka kecewa & sedikit marah. Tapi bisa apa, yang menentukan adalah pemerintah pusat, Jakarta.

Pantas sekali mereka marah. Kita ambil contoh, suatu desa di Pulau Ambalau, termasuk wilayah Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku. Untuk mencapai desa itu, tidak mudah. Jalur yang bisa ditempuh, adalah melalui Ambon. Tidak setiap hari ada jalur kapal. 

Yang kedua, melalui pelabuhan Namlea, Kabupaten Buru Utara. Sama, waktu itu belum ada jalur pelayaran reguler ke Pulau Ambalau. Sehingga, sarana telpon akan sangat membantu mereka terhubung dengan saudara atau anaknya yang kuliah di Jakarta atau Surabaya.

Pulau Ambalau, terletak di sebelah Selatan Timur Pulau Buru. Lihat & perhatikan gabar di atas. Sebuah pulau dengan sekitar, 4-5 desa. Tidak ada jalan darat, semua transportasi dilakukan dengan jalan laut. Penghasilan utama, cengkih & ikan. Inilah wilayah, yang ratusan tahun lalu diburu para pelaut Eropa, mencari rempah-rempah. Sebelum dikuasai Belanda, selama 350 tahun.

Pemasangan alat komunikasi yang baik, dalam Program Indonesia Berdering akan membantu penduduk berkomunikasi dengan relasinya. Inilah yang ditunggu, semoga sekarang sudah lebih baik. Yaitu, operator seluler plat merah, sebagai agen pembangunan, membangun tower untuk keperluan ini.

Selain keperluan hidup mereka berkomunikasi, juga sebagai tanggung jawab negara ketika Indonesia didirikan. Yaitu, Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat Indonesi.

NB: Kalau tulisan ini bermanfaat, atau anda suka, mohon komennya. Trims.


0 comments:

Post a Comment

Total Pageviews

Populer

Recent Posts

Arsip

Halaman

Powered by Blogger.