Perhatikan peta di atas. Wilayah yang sangat luas, dengan keindahan alam anugrah Ilahi yang luar biasa, akan tetapi kenapa rakyatnya sengsara. Malah menjadi babu, disiksa, dihina, diperkosa, direndahkan di negeri asing?
Pasti ada yang salah. Sebelum pemilihan presiden 9 Juli 2014, kemarin, ada seorang budayawan yang mengucapkan "Siapapun yang jadi presiden, akan sulit. Karena ketiadaan anggaran. Anggaran yang kecil, 1300T, dipotong kuajiban bayar utang 400T & bayar subsidi BBM juga 400T, habis tidak ada sisa untuk pembangunan'
Padahal, pembangunan diperlukan untuk menyediakan lapangan kerja bagi warganya untuk hidup sejahtera. Bukan dihinakan di luar sana. Bagaimana caranya?
Ketika akhirnya, Presiden Jokowi terpilih beliau mengumandangkan optimismenya yang tinggi. Sayang, berbagai kebijakan awal saja sudah dihujat. Padahal, janji kampanye kan perlu waktu untuk mewujudkannya.
Akan tetapi, dengan berjalannya waktu, mulai ditata. Kebijakan ibu Susi yang lulusan SMP menunjukkan, bahwa kekayaan Indonesia sangat besar. Asal,dikelola dengan benar. Potensi kerugian akibat pencurian ikan saja, mencapai 300T. Andaikan itu dipastikan, maka dalam waktu 10 tahun saja, Indonesia tidak punya hutang.
Belum lagi penyelundupan melalui laut. Kerugian akibat narkoba, sekitar 48T/tahun. Kejahatan, perampokan di laut karena Indonesia lupa, nenek moyangnya pelaut. Bukan bangsa bahari,sebagai nama warteg bahari saja.
Untuk urusan wisata, selain laut yang beraneka dengan pulau eksotis sebagai daya tarik wisata, juga aneka budaya. Rasanya, pengolahan suatu kawasan, bisa meniru Bali. Diciptakan 'Bali-Bali' lain, dengan ciri masing-masing wilayah.
Untuk menunjang pariwisata, yang ditargetkan 20 juta kunjungan wisata, pemerintah Presiden Jokowi akan membangun fasilitas pelabuhan lau di 9 wilayah tujuan wisata. Pelabuhan ini dibuat, agar nantinya mampu memberikan fasilitas turis yang memadai yang berwisata menggunakan kapal pesiar mewah.
Wisata laut yang sering disebut memiliki keindahan, antara lain: Raja Ampat Papua, Wakatobi Sulawesi Tenggara, Bunaken Sulawesi Utara, Pulau Komodo Nusatenggara, Bandanaira tempat pengasingan Bung Hatta di Laut Banda. Selain itu, saya yakin masih banyak potensi yang belum digali, dipetakan, kemudian dipersiapkan prasarana yang layak. Sebelum ditawarkan dalam paket wisata bahari.
Ketika ada pulau yang 'direbut' Malaysia, sepertinya oleh Indonesia tidak diurus. Oleh Malaysia, ternyata dijadikan wisata penyelaman. Turis masih suka keadaan alinya, dibanding dibangun tapi tidak serasi dengan kondisi sebelumnya. Ini akibat kurangnya tenaga desain taman, atau apa. Yang memahami, keadaan kemudian membangun tanpa mengganggu keasrian sebelumnya.
Kenapa sektor ini penting? Karena, potensinya yang besar. Akan mendatangkan lapangan kerja yang juga besar, agar tidak perlu pergi ke luar negri hanya sebagai PRT. Andaikan ke luar, mestinya tenaga ahli. Seperti mantan karyawan PT DI, yang direkrut di luar karena keahliannya. Atau seperti Dr. Sengkot Marzuki yang ahli pembuat enzim, sebelum menjadi diretur Bio Farma Bandung.
Atau, salah seorang penemu telpon generasi 4 di Jepang, & seterusnya.
Semoga saja, niat baik pemerintah menjadikan rakyatnya sejahtera, di negri sendiri bisa diwujudkan. Antara lain melalui, Potensi Wisata Indonesia. Tanpa dukungan rakyatnya, tidak mungkin.
NB: Kalau tulisan ini ada baiknya, mohon dishare atau dikomen. Trims.

0 comments:
Post a Comment